Ask
Me


Test
Drive


Find


Brochure

Click
Me

Back
to Top

Bensinmu Habis Cepat? Coba 7 Kebiasaan Ini dan Rasakan Bedanya Sampai 30%

  News /   24 April 2026

Berikut tujuh kebiasaan yang kalau kamu mulai terapkan secara konsisten, kamu akan merasakan perbedaan konsumsi BBM yang signifikan. Nyata. Terasa di dompet.

Kebiasaan 1: Berhenti "Nancap Gas" Saat Mulai Jalan

Bayangkan kamu mau jalan dari lampu merah. Begitu lampu hijau, kaki kanan langsung menginjak gas dalam-dalam karena ingin cepat melaju. Rasanya wajar, rasanya normal.

Tapi di situlah bensin paling banyak terhambur.

Momen akselerasi dari berhenti ke bergerak adalah saat mesin paling "lapar" — dan semakin keras kamu injak gas, semakin banyak bensin yang diminta mesin dalam satu waktu. Ibarat kamu lagi lapar banget dan langsung makan cepat — banyak yang terbuang, tidak semua terserap optimal.

Coba ubah kebiasaan ini: setelah lampu hijau, injak gas secara perlahan dan bertahap. Tidak perlu lambat seperti siput — cukup smooth dan stabil. Biarkan mobil berakselerasi dengan tenang tanpa ada sentakan. Kamu akan sampai di kecepatan yang sama, hanya beberapa detik lebih lambat — tapi bensin yang kamu hemat dari satu titik lampu merah itu

Kebiasaan 2: Baca Jalan, Jangan Ngegas Baru Ngerem

Ini yang membedakan pengemudi yang irit dari yang boros: kemampuan membaca situasi di depan.

Pengemudi yang boros pola berkendaranya seperti ini: ngegas ? tiba-tiba ada kendaraan atau lampu merah ? ngerem mendadak ? ngegas lagi ? ngerem lagi. Terus berulang.

Setiap siklus ngegas-ngerem yang terjadi secara tidak perlu itu adalah pemborosan ganda — bensin yang sudah dibakar untuk membangun kecepatan, dibuang sia-sia menjadi panas di kampas rem.

Pengemudi yang irit melakukan sebaliknya: mereka melihat jauh ke depan. Kalau ada kendaraan lambat di depan, mereka mulai angkat gas lebih awal dan biarkan mobil melambat sendiri. Kalau lampu di depan terlihat akan berganti merah, mereka tidak ngegas dulu baru ngerem — mereka sudah mulai angkat gas dari jauh.

Ini bukan hanya soal irit, ini juga membuat perjalanan terasa jauh lebih tenang dan tidak melelahkan. Coba praktikkan selama satu hari penuh dan rasakan perbedaannya, baik di indikator bensin maupun di tingkat stres kamu saat berkendara.

Kebiasaan 3: Jaga Kecepatan Tetap Stabil — Jangan Naik Turun Terus

Kalau kamu ada di jalan tol atau jalan lurus yang panjang, ada satu kebiasaan kecil yang bikin bensin boros tanpa terasa: kecepatan yang terus naik turun.

Ngegas sampai 100 km/jam, lalu pelan-pelan angkat gas, turun ke 80, ngegas lagi ke 100, turun lagi, ngegas lagi. Terus berulang tanpa ritme yang jelas.

Mesin sangat tidak suka ketidakstabilan seperti ini. Setiap kali kamu menambah kecepatan, mesin harus bekerja ekstra lagi. Energi yang terbuang untuk bolak-balik antara mempercepat dan melambat jauh lebih banyak dibanding kalau kamu cukup mempertahankan satu kecepatan yang konsisten.

Temukan kecepatan yang nyaman. Misalnya 80–100 km/jam di tol dan pertahankan di sana. Tidak perlu tergesa-gesa mengejar kendaraan lain, tidak perlu terus berpindah-pindah kecepatan. Konsistensi adalah kunci efisiensi di jalan panjang.

Kebiasaan 4: Cek Angin Ban Seminggu Sekali — Dua Menit yang Menghemat Ribuan Rupiah

Ini yang paling sering dilewatkan karena kelihatan sepele: tekanan angin ban.

Ban yang kempes — bahkan sedikit saja — membuat area kontak ban dengan aspal melebar. Semakin lebar area kontak, semakin besar gesekan. Semakin besar gesekan, semakin keras mesin harus bekerja untuk menggerakkan mobil ke depan. Dan semakin keras mesin bekerja, semakin banyak bensin yang terbakar.

Kamu tidak akan merasakannya langsung saat berkendara. Mobil tetap jalan normal. Tapi di balik itu, bensin kamu "bocor" diam-diam setiap kilometer.

Solusinya sangat mudah: cek tekanan angin seminggu sekali atau sebelum perjalanan jauh. Di setiap SPBU ada alat pengukur angin yang bisa kamu gunakan gratis atau dengan biaya sangat kecil. Dua menit. Itu saja yang dibutuhkan untuk memastikan salah satu "pencuri bensin" paling umum tidak bekerja di mobilmu.

Kebiasaan 5: AC Bukan Musuh — Tapi Jangan Biarkan Dia Kerja Sia-sia

AC memang menyedot tenaga mesin, dan ini otomatis menambah konsumsi bensin. Di iklim Indonesia yang panas dan lembab — terutama di kota-kota pesisir luar Jawa seperti Makassar, Manado, atau Balikpapan — mematikan AC sama sekali bukan pilihan yang realistis.

Tapi ada cara cerdas menggunakan AC tanpa membuatnya jadi pemborosan:

Jangan buka jendela saat AC menyala. Ini kebiasaan yang banyak orang lakukan tanpa sadar — AC menyala, tapi jendela tetap terbuka sedikit. Akibatnya, AC harus bekerja lebih keras karena udara panas terus masuk. Pilih satu: AC menyala dengan semua jendela tertutup, atau matikan AC dan buka jendela.

Gunakan mode recirculate. Tombol ini membuat AC mensirkulasi udara yang sudah dingin di dalam kabin alih-alih terus menarik udara panas dari luar. Pendinginan lebih cepat, beban mesin lebih ringan, dan bensin yang dipakai lebih sedikit.

Parkir di tempat teduh. Kalau mobil kamu terparkir di bawah terik matahari seharian, kabin bisa jadi seperti oven — 50–60 derajat di dalam. Saat kamu masuk dan menyalakan AC, mesin dan AC harus bekerja sangat keras untuk mendinginkan kabin dari suhu ekstrem itu. Parkir di tempat teduh atau gunakan sun shade, dan saat pertama kali masuk mobil buka semua jendela sebentar untuk keluarkan udara panas sebelum menyalakan AC.

Kebiasaan 6: Bersihkan Kabin dari Barang yang Tidak Perlu

Ini terdengar terlalu sederhana untuk benar. Tapi ini nyata.

Setiap kilogram beban tambahan di dalam mobil adalah beban ekstra yang harus ditanggung mesin setiap kilometer perjalanan. Kalau kamu punya kebiasaan menaruh banyak barang di bagasi atau kabin — stok air minum berlebihan, peralatan yang "jaga-jaga," buku, tas yang tidak dipakai, atau apa pun yang "nyaman" di sana tapi jarang dibutuhkan — mobil kamu secara konsisten membawa beban yang tidak perlu.

Lakukan satu hal sederhana: audit bagasi dan kabin mobilmu. Keluarkan semua yang tidak kamu butuhkan untuk perjalanan sehari-hari. Kamu mungkin akan terkejut menemukan berapa banyak yang bisa dikeluarkan.

Memang tidak ada angka ajaib untuk penghematan dari ini — efeknya lebih terasa kalau dikombinasikan dengan kebiasaan-kebiasaan lain di daftar ini. Tapi prinsipnya sederhana: mesin yang bekerja lebih ringan selalu berarti lebih irit.

Kebiasaan 7: Servis Berkala — Jangan Tunda Sampai "Nanti Kalau Sempat"

Ini satu-satunya kebiasaan yang butuh waktu lebih dari dua menit untuk dilakukan — tapi dampaknya jauh melampaui semua kebiasaan lain di daftar ini.

Mobil yang rutin diservis adalah mobil yang bekerja di kapasitas optimalnya. Busi yang masih bagus membakar bensin lebih sempurna. Filter udara yang bersih membuat mesin bisa "bernafas" dengan baik. Oli yang segar mengurangi gesekan di dalam mesin. Semua ini secara kolektif menjaga efisiensi BBM di angka yang seharusnya.

Ketika servis ditunda — "nanti setelah gajian," "nanti minggu depan," "nanti pas libur" — kondisi komponen-komponen kecil itu perlahan memburuk. Tidak ada yang rusak total secara tiba-tiba, tapi efisiensinya menurun sedikit demi sedikit. Sampai suatu hari kamu baru sadar bahwa mobil kamu sudah boros cukup lama tanpa alasan yang jelas.

Source: https://www.goodyear-indonesia.com/learn/5-tips-menghemat-bahan-bakar-kendaraan/